Pertama Kali

There’s first time for everything. Akan selalu ada pertama kali untuk segala sesuatu. Sebuah idiom yang mau tidak mau suka tidak suka, memang sedekat urat nadi yang terus berjalan berjajar namun juga berseberangan. Baik – buruk, dinamis – statis, terang – gelap, inflasi – deflasi. Selalu ada dua sisi mata uang yang berlawanan namun kerap utuh dalam satu bingkai yang sama.

Portugal menjadi juara Euro 2016 lalu misalnya. Merupakan kali pertama sejak otoritas sepakbola di negara tersebut berdiri. Dan sang penentu kemenangan tak lain tak bukan adalah seorang yang tidak lebih baik dari Bafetimbi Gomis sewaktu masih berseragam Swansea dulu kala, Eder. 

Setelah beberapa meter menyodorkan bola ke arah hampir masuk kota penalti lawan. Ia coba menceploskan bola, datar saja tapi dengan yakin dan arah yang jelas ke pojok kanan gawang yang dijaga Hugo Lloris, dan benar saja, gol!. Eder yang baru pertama kali tampil pada gelaran 4 tahunan tersebut dan masuk sebagai pemain pengganti pula, pun langsung membubuhkan tinta emas sejarah bagi negaranya. Hanya dalam satu kali penampilan (+- 20 menit), satu gol, dan juara!.

Menoleh kebelakang tepatnya satu tahun sebelumnya yakni pada 2015 silam. Di ranah yang jauh berbeda. Daniel Paul Johns, vokalis Silverchair. Yang konon menyandang title prestisius (menurut saya pribadi.red) sebagai, Sang Pangeran Grunge, setelah era kematian Kurt. Juga merilis debut albumnya bertajuk Aerial Love yang sama sekali tidak baik. Saya selalu percaya bahwa perubahan adalah sebuah keniscayaan, tapi hendaknya tak seperti ini. Sangat jauh dari image yang melekat pada pria asal Australia selama ini

“Its a soft and slow, soulfull ballad.”

Ditambah dengan berulang kali gerakan meliuk-meliuk yang menggelikan sekaligus memilukan, lalu tentunya dengan riasan make up wajah kinclong yang aneh, sungguh tidak terdengar feedback sekalipun, all clean. Juga yang pertama kali setelah tidak lagi bersama kompatriot di bandnya terdahulu yang membesarkan namanya.

Dalam perjalanannya, terkait peristiwa atau hal yang pertama kali hampir selalu tidak bisa ditebak arah dan akan berakhir seperti apa, seringkali suka-suka saja. Yang kita harapkan seringkali jauh dari yang kita inginkan, begitu juga sebaliknya. Sesuatu yang bahkan dalam mimpi pun kita ogah membayangkan bisa tiba-tiba datang semaunya dengan pelbagai cara, dan justru sialnya disitulah kadang yang terbaik bagi kita dibanyak tempat, atau setidaknya untuk saya pribadi.

Sejujurnya saya adalah penulis yang buruk, sangat buruk. Untuk sekelas penulis amatir pun saya masih jauh, bahkan untuk membaca tulisan sendiri awalnya saya malu. Tapi di sisi lain hobi membaca saya yang besar menuntun saya pada detail tiap aksara yang saya baca lalu mencoba menyusunnya menjadi ingatan. 

Ingatan yang masih dalam bentuk parsial dan absurd tersebut, lambat laun membentuk sebuah cerita. Yang tentunya segala macam tetek bengek perihal terkait peran, setting, dan alur cerita yang semau gue

Mulai dari bagaimana ingatan itu terpatri sekian lama, mengendap. Bahkan sampai ingatan tersebut terlampau kuat menancap di otak. Seringkali terkait hal-hal yang saya suka, lalu saya baca berulang kali dan mencoba menghafal detail cerita, dan peran, sampai tanggal rilis, percetakan, dan segala kredit pada buku tersebut.

Lalu munculah ide menyusun sekaligus merangkai segala ingatan yang tadinya masih berbentuk sepotong-sepotong tersebut. Untuk kemudian nantinya disusun dan disimpan dalam satu wadah. Selain itu juga untuk minimal pendokumentasi yang dapat bersifat pribadi, sekaligus bisa di akses kawan-kawan. 

Dan akan berfungsi sebagaimana layaknya tempat ngoceh, sumpah serapah, dan mengumpat apapun, tentang apapun, terkait apapun. Yang lagi-lagi ya suka-suka saja. Dan ini adalah blog pribadi pertama saya, tapi nantinya bukan hanya tulisan saya yang baru pertama, mungkin juga ada beberapa arsip tulisan terdahulu yang masih terselamatkan.

Well, Saya rasa saya selaku penulis cukup untuk memperkenalkan sekaligus memberikan pengantar, mengutip sedikit apa yang pernah diucapkan Fredrich Nietzsche bahwa, “Freedom is the will to be responsible for ourselves.”. Selama bertanggung jawab atas apapun, saya merasa segala hal layak untuk di dokumentasi kan juga dalam bentuk apapun. Yasudah. Sekian dari saya. Salam hangat, Herzliche Grüße!

Advertisements

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s