Gracias, Alonso! [Part I]

“What He (Xabi) could do with a football is a dream for most us.” – Zinedine Zidane

Prolog

Jika ada seorang dari sekian banyak pesepak bola profesional yang lebih terkesan sebagai dosen filsafat kutu buku yang mengajar tentang arkeolog di suatu perguruan tinggi ternama di dunia. Karna memiliki wawasan yang begitu luas, visi yang bisa dibilang satu yang terbaik sekaligus sosok yang sederhana.

Sekaligus seorang penyandang gelar arsitek. Karena kemampuannya merancang bangunan yang bukan hanya kokoh, namun juga memiliki detail ornamen tiap sudut yang tak banyak disadari banyak orang. Justru dari hal-hal kecil itulah sebuah keindahan terejawantahkan. Sebagaimana semestinya, sebagaimana seharusnya.

Maka Xabier ‘Xabi’ Olano Alonso adalah yang paling akurat merepresentasikan itu semua. Seorang jenius dalam memahami instruksi pelatih, lalu menerapkannya diatas lapangan dengan elegan sekaligus egaliter. Memiliki daya jelajah yang begitu luas, seorang pria yang rendah hati, dan selalu diterima dimanapun dia menapaki karirnya sebagai pesepak bola profesional.

“Xabi menikmati kesuksesan yang terus bertambah, tapi ia sama sekali tidak berubah,” kata Mikel Alonso, saudara kandungnya.

Pria kelahiran 25 November 1981 tersebut merupakan putra asli suku Basque. Xabi sebenarnya adalah seorang penyihir yang menyamar sebagai pesepak bola. Biasa ditempatkan di posisi gelandang bertahan, atau kini kerap disebut pivot

Mirip gaya main Andrea Pirlo namun beda spesifikasi. Jika Pirlo pria flamboyan, terkesan seperti seorang gypsy yang melenggak-lenggok sesukanya dengan santai. Sembari lari-lari kecil, dan kapan saja bisa mengirim umpan-umpan ajaibnya membelah sepertiga area lawan.

Maka Xabi adalah peran yang berbeda. Ia bisa menjadi pemutus serangan lawan, pressing ketat, hingga tackling keras yang berbuah kartu pun tak pelak diterimanya. Namun ia juga mampu merancang serangan yang tak kalah elok dari yang dilakukan Pirlo. Bahkan ia memulainya dari garis pertahanannya sendiri sebagai awal rangkaian serangan, yang seringkali berujung gol lewat skema yang sungguh indah.

Itulah yang membedakan Xabi dengan gelandang-gelandang era modern pada umumnya. Terlihat ia sosok pekerja keras serta disiplin, memahami instruksi pelatih dengan baik dan mampu mendistribusikan bola ke segala sudut lapangan.

Dan keduanya sempat bertemu kala Final Piala Liga Champions tahun 2005 silam di Istanbul, Turki. Dan dari situ pulalah awal mula perhatian saya terhadap, The Red Beard, Si Janggut Merah (julukan Xabi), kian khidmat serta istiqomah dalam mengikuti jejak karirnya bahkan hingga tingkat ma’rifat, setelahnya.

Tertinggal tiga gol oleh AC Milan di babak pertama lewat sontekan Paolo Maldini di awal laga dan dua gol Hernan Crespo tentu bukan perkara mudah. Pun ditambah serta porak porandanya koordinasi di semua lini permainan Liverpool.

Sontak membuat Rafa Benitez yang kala itu baru musim pertama menukangi The Reds kalang kabut. Banyak terjadi perubahan instruksi di sana-sini, khusunya dalam mem-pressing lawan sedini mungkin serta alur distribusi bola yang terus mengalir dari kaki ke kaki.

Tak pelak Rafa pun juga memotivasi anak asuhnya untuk berjuang hingga titik darah penghabisan. Sebentuk usaha lain untuk mempersuasi para pemainnya agar mengeluarkan seluruh kemampuan terbaiknya.

Segala usaha tersebut nampaknya menuai apresiasi dari pemain. Si Merah benar-benar kesetanan di babak kedua. Semua pemain berlari lintang pukang mengejar bola, semua bekerja keras di masing-masing lini.

Dan gol Steven Gerrard adalah momentum awalnya. Kedua tim bermain terbuka dan ngotot, sementara waktu pun terus berjalan.

Lalu Vladimir Smicer adalah yang selanjutnya mencatatkan namanya di papan skor guna memperkecil ketertinggalan. Sekaligus memperbesar asa The Reds untuk kembali pada track yang seharusnya.

Lalu sumbu ledak yang jauh lebih besar pun segera disulut.

Stevie G dijatuhkan Gattuso di kotak penalti. Tanpa tedeng aling-aling sang pengadil menunjuk titik putih. Penalti!. Sontak para Liverpudlian (julukan pendukung Liverpool), pun bersorak sorai. Gemuruh stadion pun menular hingga kolong jagad lewat siaran televisi.

Pertanyaan siapa yang akan menjadi eksekutor pun tak lama terjawab. Seorang yang baru musim pertama berseragam Liverpool, pun dalam pertandingan segenting dan sekrusial Final Liga Champions. Pemuda tanggung bernomor punggung 14.

Tampak ia menimang-nimang bola sebelum bersiap menghadapinya. Di kotak 12 meter pas. Kesempatan emas berbalut berlian untuk menyamakan kedudukan. Seluruh harapan kubu merah kini ada di pundaknya. Jika tak berhasil habis sudah.

Dan benar saja. Tendangan penaltinya gagal, alih-alih mengecoh justru arah bola dapat di baca dengan baik oleh Dida. Namun beruntung bola pantulannya mengarah ke kaki kiri Xabi, yang tanpa ampun langsung disambarnya.

Dan bom waktu yang sudah dihitung mundur sejak insiden Gerrard dijatuhkan, pun seketika itu juga meledak. Seluruh pendukung Liverpool di stadion tumpah ruah dalam suasana gegap gempita. Sebagai klimaks atas riuh rendah yang terjadi selama nyaris 60 menit jalannya pertandingan. Skor imbang 3-3.

xabi merayakan golnya bersama milan baros

Dan di akhir laga setelah Andriy Shevchenko gagal mengeksekusi tendangan penalti dalam babak adu tos-tosan. Jammie Carragher dan kawan-kawan berhasil memenangi laga dan merengkuh gelar juara. 

Sekaligus membubuhkan Liverpool sebagai tim tersukses dalam perebutan supremasi kejayaan khususnya antar kesebelasan elit di ranah Inggris Raya. Dengan 5 kali memenangi trofi Si Kuping Besar.

You’ll never walk alone, berkumandang seantero Atatürk Olympic Stadium. Suasana mengharu biru.

xabi dan gerrard mengangkat trofi liga champions

Berkembangnya matador muda

xabi kecil

Jauh sebelum malam yang serba indah tersebut. Xabi hanyalah bocah ingusan yang memiliki impian untuk berseragam sekaligus berprestasi bersama kesebelasan yang ia idolakan sejak kecil, Real Sociedad.

Adalah Antiguoko Kirol Elkartea. Sebuah klub amatir bersahaja yang terletak kira-kira 500 kilometer dari La Masia. Klub kecil ini merupakan feeder dari Real Sociedad, terletak disebelah area disebuah daerah Basque yang kental, San Sebastian, bernama Antiguoko. Antiguoko sendiri berarti ‘antik’.

Dan di daerah yang berbatasan langsung dengan teluk Biscay ini, dua sahabat kecil Mikel Arteta dan Xabi Alonso jatuh cinta pada sepakbola.

xabi (left), arteta (right).doc

“Saya selalu jadi gelandang sejak bermain bersama saudaraku Mikel di pantai San Sebastian (Spanyol utara),” kata Alonso seperti dikutip AFP.

“Semua anak kecil ingin menjadi penyerang dan mencetak banyak gol, tapi saya senang berada di belakang.”

Kecintaan keluarganya akan sepak bola diwariskan dengan sempurna. Ketika sudah fasih berjalan sendiri menggunakan dua kakinya, Xabi kecil langsung akrab dengan si kulit bundar. Koneksi yang terbangun antara dirinya dengan bola menggambarkan bakat besar yang seperti terlahir secara alami.

Jika garis nasib pesepak bola Xabi seperti sudah turun-temurun, proses membuka kotak bakat Mikel Arteta Amatriain sedikit berbeda. Pemain berambut rapi tersebut tidak mempunyai darah sepak bola dari keluarganya. Ia mengasah sentuhan-sentuhan lembut dan kecepatan berpikirnya dari sepak bola jalanan.

Maka, ketika datang tawaran dari Antiguoko, keduanya menyambut dengan riang gembira. Berawal dari rival bau kencur di lapangan berpasir, Arteta dan Xabi justru mampu menjalin komunikasi yang ciamik ketika berduet di lapangan tengah.

Kombinasi keduanya masih diingat sebagai kombinasi yang mendekati alami. Mereka berdua mendikte jalannya permainan. Jangkauan umpan dan akurasi yang sangat baik untuk ukuran bocah membuatnya menguasai lapangan tengah dengan mudah. Berbagai juara di turnamen usia muda mereka gapai dengan begitu mudah.

Sering, ketika sedang tidak berlatih atau bertanding, keduanya asik tenggelam dalam lamunan. Arteta dan Xabi sama-sama membangun impian berduet lagi di lapangan tengah Sociedad. Namun impian hanya menjadi kenangan ketika takdir ditulis dengan gaya yang berbeda.

Namun ketika nasib berjalan pada roda yang tidak sesuai dengan mereka bayangkan. Arteta menerima pinangan Barca, untuk kemudian bergabung bersama La Masia. Barcelona, sebuah entitas yang memang jauh lebih besar ketimbang Sociedad. 

Dan impiannya pun terwujud. Kala menjalani debut di tim senior ia masuk menggantikan Guardiola, seorang yang selama ini ia anggap sebagai Mentor. Debut impian yang sempurna

Tak lama berselang Real Sociedad pun datang menawarkan kontrak bagi Xabi. Proses adaptasi Xabi dengan Sociedad terbilang mulus lantaran sang kakak sudah lebih dahulu bergabung dengan akademi Sociedad. Kakak tertua Xabi bernama Mikel Alonso.

Ia sadar betul akan menderita. Namun ia juga sadar semua akan terbayar. Dan memang begitu adanya. Segala peluh dan kesah itu terbayar ketika Javier Clemente, pelatih Sociedad ketika itu memberi Xabi debutnya bersama tim senior. Saat itu, Xabi baru saja menapaki usia 18 tahun. Usia ideal untuk mentas bersama tim utama.

Namun kebahagiaan tak terbangun dalam semalam. Meski kemampuannya mengoper bola begitu disukai, Xabi harus sadar bahwa ia masih harus terus belajar. Tawaran untuk dipinjamkan ke Segunda Division bersama SD Eibar diambil. Masa peminjaman yang tak terlalu sukses, namun memberi perubahan besar untuk Xabi.

xabi saat dipinjamkan ke eibar

Saat itu bulan Januari, ketika pelatih baru Sociedad, John Toshack menarik pulang Xabi di tengah-tengah masa peminjamannya. Pelatih dari Wales tersebut tengah berada dalam situasi sulit. Ia mendapatkan mandat yang cukup berat: membawa Sociedad bertahan di Primera Division.

Perjudian tersebut dimenangi Toshack. Ketenangan Xabi jauh melampaui usianya. Seorang pemuda berusia 19 tahun, menjadi pusat semesta Sociedad. Memang, Xabi tak seorang diri menyelamatkan La Real. Namun, keberadannya begitu penting. Ia seperti mampu menarik keluar potensi-potensi para rekan.

“Saya tak tau lagi mantan pemain akademi mana yang bisa memberikan dampak sebesar Xabi terhadap tim. Semua pemain nampak bermain lebih baik ketika ada dia di atas lapangan,” ungkap Toshack ketika mengenang keajaiban tersebut.

Di sisi lain, Xabi menunjukkan bahwa bersyukur adalah keharusan. Bersyukur tak hanya dengan memejamkan mata dan menyebut nama Tuhan dengan khidmat dan penuh perasaan.

Wujud syukur paling syahdu adalah terus bekerja, mencangkul tanah supaya gembur, menanam benih bakat di lahan terbaik, merawatnya dengan telaten, dan memanen ketika masanya tiba.

Xabi tak kecewa ketika ia ditinggal sahabatnya Arteta. Ia tak jatuh dalam kesedihan mendalam ketika impinan bermain bersama Arteta untuk Sociedad tak terwujud. 

Ia mengambil jalan lelaki. Jalan penuh tanggung jawab dan kesadaran untuk terus dan terus belajar.

to be continued..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s