La Longevidad, Mr. Xabi Alonso [Part II]

“Barcelona players are pressing the ball at least 25 times to reach the goal, while Real Madrid’s Xabi Alonso doing this all in a single pass.” – Roberto Mancini

Setelah melalui tahun yang berat. Bahu membahu, serta kerja keras dan disiplin yang tinggi, lalu berhasil mempertahankan Sociedad tetap berada di La Liga. Untuk kemudian musim selanjutnya kembali melanjutkan kiprahnya di kasta tertinggi di ranah Spanyol tersebut.

Di lain pihak, Xabi ditinggal melalang buana oleh sang sahabat Mikel Arteta. Setelah mengalami adaptasi yang kurang baik di Barcelona, tak pelak Arteta pun dipinjamkan ke klub asal Prancis yakni, PSG. Masa peminjamannya pun tak berlangsung lama, karena setelah itu datang Glasgow Rangers untuk menawarnya.

Keduanya merajut mimpi dan, untuk paling tidak, membuktikan diri sebagai putra terbaik Tolosa yang memiliki rasa kedaerahan sangat tinggi.

Penduduk asli San Sebastian disebut Donostiarra. Sekedar catatan, Mikel Arteta dan Xabi Alonso adalah seorang Donostiarra karena lahir dan besar di kota ini.

2017-04-06-23.00.29.jpg.jpeg
arteta dan xabi

Rival utama Real Sociead adalah Athletic Bilbao. Rivalitas tercipta karena keduanya sama-sama berasal dari wilayah Basque. Pertemuan mereka disebut sebagai Basque Derby dan sayangnya Sociedad lebih sering kalah jika bertemu dengan rival abadinya tersebut.

Uniknya Xabi mencatatkan debut Internasional-nya justru bukan dari timnas Spanyol, melainkan ‘negara’ Basque. Pada 29 Desember 2001, Xabi menandai laga pertama di pentas Internasional bersama ‘negara’ tersebut. Meski tidak tercatat sebagai anggota resmi FIFA maupun UEFA, namun Basque punya kapasitas untuk bisa menggelar pertandingan Internasional. Kasusnya sama dengan Catalunya, keduanya merupakan provinsi Spanyol yang memiliki otonomi khusus.

Maka tak heran, Basque pun memiliki hak untuk membentuk tim nasional sendiri sejak 1930 silam dan tampil di berbagai pertandingan tak resmi. Sejumlah pemain yang memegang kewarganeraaan Spanyol yang berdarah Basque bergantian dipanggil, salah satunya termasuk Xabi.

2017-04-06-23.01.57.jpg.jpeg
timnas ‘negara’ basque

Di musim 2002-2003 manajemen menunjuk Reynald Denoueix untuk menahkodai La Real. Xabi masuk dalam skuad inti pilihan entrenador anyar tersebut. Pria asal Prancis itupun lantas menunjuk Xabi menjadi kapten tim. Sebuah kepercayaan yang mampu ia buktikan dengan hasil yang jauh dari kata mengecewakan.

Bahu membahu bersama Karpin di lini tengah. Xabi mulai percaya diri dalam mengalirkan bola dan merangkai serangan demi serangan. Era tahun 2000-an posisi terbaik Sociedad di La Liga datang di akhir musim 2002-2003 yang finish di pos kedua mengalahkan dominasi yang saat itu dipegang oleh Barcelona dan Valencia.

Dua penyerang anyar Sociedad saat itu Nihat dan Kovacevic  menjadi peraih top skor kedua dan ketiga La Liga di musim itu. Di bawah asuhan Denoueix, Sociedad nyaris menjuarai La Liga dengan hanya dua poin menjadi pemisah antara mereka dan juara kala itu, Real Madrid.

Pada jendela transfer musim panas, Real Sociedad kedatangan teman masa kecil Xabi, Mikel Arteta. Arteta sangat senang pada prospek bermain bersama Xabi di lini tengah, tetapi kegembiraan itupun tak berlangsung lama.

Pada pertandingan pra-musim Xabi tidak dimainkan oleh Sociedad, menandakan bahwa tawaran yang diajukan Liverpool benar-benar dipertimbangkan. Setelah sebelumnya Real Madrid juga melakukan penawaran kepadanya.

Akhirnya diumumkan pada 20 Agustus 2004 bahwa mereka telah membuat kesepakatan senilai £10.700.000 dengan Liverpool dan Xabi sudah menyetujui persyaratan dengan tim Merseyside.

2017-04-06-23.01.41.jpg.jpeg
garcia, benitez, xabi

Xabi tiba di Liverpool bersamaan dengan Luis García dari Barcelona, dan menandai awal dari sebuah era baru di Anfield. Pelatih baru Liverpool, Rafael Benitez, berusaha untuk merevolusi klub dan merombak skuad. Maka spanish connection pun disematkan menilik begitu dominan unsur Spanyol pada tubuh tim ini.

Tradisi dan cerita-cerita mengenai Anfield telah mempertemukan hati Xabi dengan Liverpool sebelumnya, dan dia merefleksikan bermain untuk Liverpool adalah sebuah passion di kehidupan. 

Ia diplot sebagai gelandang bertahan yang menyuplai bola ke depan untuk dilanjutkan kepada Steven Gerrard, Harry Kewel, Luis Garcia ke penyerang-penyerang Liverpool.

Setelah mengemas 58 poin di Liga sekaligus menempatkan The Reds pada urutan tabel ke-5 di akhir musim. Lalu malam yang masyhur nan dramatis dalam Final Liga Champions di Istanbul melawan AC Milan menjadi penanda era baru dalam perjalanan Xabi di Anfield. Tahun pertama yang mengagumkan.

Dan rasa cintanya kepada Liverpool pun kian menjadi, ia bahkan mengungkapkan bahwa perasaannya kepada The Reds setara dengan rasa cintanya pada keluarganya. Sebentuk dedikasi yang tentu saja membuatnya disegani oleh para kompatriotnya.

2017-04-06 23.02.23
pepe reina dan xabi alonso

“Saya sangat senang dengan atmosfer di Melwood, tempat yang hebat untuk bekerja dan skenario mengenai keangkeran Anfield adalah hal yang tak tertandingi.” ungkap Xabi.

“Sejak saya datang, saya telah mengetahui banyak hal seperti para legenda-legenda besar Liverpool. King Kenny, Alan Hansen, Souness, Robbie Fowler, Steven Gerrard dan Carra. Mereka akan selamanya menjadi legenda.”

Sami Hyppia merupakan panutan, dan saya banyak belajar dari dia. Saya tidak pernah berpikir saya berada di sana, tetapi jika saya berada di bawah mereka, saya akan senang berada di sana.” hasrat Xabi.

Di musim keduanya bersama Liverpool ia berhasil membawa pulang Piala FA dari Wembley Stadium. Ia pun juga tercatat sebagai pencetak gol dengan jarak terjauh yakni 71 Meter saat jumpa Luton Town diajang yang sama.

Musim berganti, lalu silang pendapat antara dirinya dan sang pelatih pun tak bisa dihindarkan. Keiinginan Benitez untuk memboyong Gareth Barry membuat Xabi mulai gerah berada di Anfield. Satu-satunya yang membuatnya bertahan adalah dukungan para suporter kepadanya.

Setelah mengarungi 5 musim berbaju Liverpool. Berjibaku di lini tengah bersama Steven Gerrard, untuk menopang ujung tombak yang diisi nama Milan Baros dan Luis Garcia sebagai striker lubang. Bersama The Reds, Xabi merupakan salah satu pemain kunci. Ia memenangi gelar Liga Champions, Piala Super Eropa, Piala FA, dan Community Shield

Ketika isu mengenai kepergian Xabi semakin menguat, para pendukung Liverpool memanfaatkan laga pra-musim melawan Lazio, untuk berulang kali menyanyikan nama Xabi dan memaksa Benitez untuk mengubah keputusannya.

“Pertandingan melawan Lazio pada Agustus 2009 adalah momen ketidakpastianku. Karena saat itu jendela transfer masih terbuka dan saya tidak mengetahui apa yang akan terjadi. Apapun itu, entah saya bertahan di Liverpool atau pindah ke klub lain.” ungkapnya dalam wawancara tersebut.

“Hal tersebut sangatlah sulit (menyatakan hasrat untuk pindah) karena Liverpool telah menjadi tempat yang spesial bagi saya. Itu berasal dari dalam diriku dan karena saya menemukan semangat hidup di sini. Sangat sulit untuk mengatakan kepada para suporter apa keputusanku. Akan tetapi terkadang anda harus mengikuti kata hati dan itulah yang tergambar dalam perasaanku saat itu.” tegas Xabi.

Kedewasaan

Rabu, 5 Agustus 2009, Real Madrid datang untuk memastikan tawaran mereka. Dengan angka yang di taksir senilai £34.000.000 dan jaminan sebagai pemain inti pun tak kuasa ditolak oleh Xabi. Setelah mencapai kesepakatan antar keduanya. Akhirnya Xabi memutuskan hengkang dari Liverpool dan memilih menerima pinangan klub yang 5 tahun yang lalu sempat mengajukan tawaran kepadanya.

Xabi merupakan bagian kepingan puzzle yang sedang disusun oleh Florentino Perez. Sejalan dengan itu ia pun mendatangkan nama-nama besar lain yakni Cristiano Ronaldo, Kaka, dan juga Striker masa depan Timnas Prancis, Karim Benzema. Yang kelak oleh awak media sepakat menyebutnya sebagai Los Galaticos Part II.

“Xabi merupakan pemain loyal semenjak berlatih bersama kami pada Agustus 2004 dan Rafa Benitez cukup jeli karena telah membelinya saat itu. Namun, Benitez pun juga cukup bodoh karena telah menjualnya ke Real Madrid lima tahun kemudian,”, Komentar Gerrard terkait kepindahan sahabatnya itu.

2017-04-06 23.01.24
xabi saat berlatih di real madrid

Skuad asuhan Manuel Pellegrini ini pun tak pelak langsung nyetel. Di musim pertamanya bersama Los Merengues Xabi bahu membahu bersama Rafael van der Vaart dan Mahammadou Diara, yang kadang di rotasi oleh Fernando Gago. Ronaldo yang didatangkan dengan bandrol pemain termahal di dunia pun pada musim pertamanya mengkoleksi 33 gol disemua ajang. Lalu disusul oleh Gonzalo Higuain, pria Argentina ini mengkoleksi 29 gol dari 27 laga disemua ajang. Xabi sendiri mengkoleksi 3 gol yang kesemuanya ia catatkan di La Liga.

Selain itu masih ada nama-nama tenar lain seperti legenda hidup Raul Gonzales, dan pria asli lulusan Castilla, Guti Hernandez. Dan akhir musim mereka menduduki peringkat kedua di bawah Barcelona. Yang saat itu benar-benar digdaya dengan banyak pihak menyebutnya sebagai sekumpulan alien.

Setelah gagal menjuarai La Liga dan dianggap tidak memenuhi ekspekatasi Perez, Pellegrini pun akhirnya harus lengser. Desas desus tentang siapa pemangku jabatan manajer selanjutnya di Real Madrid pun mulai berhembus. Tersebut nama pria Portugal yang baru saja mengantarkan Inter Milan meraih treble winner untuk kali pertama. Dan ya, tentu saja benar adanya. Mourinho datang ke Santiago Barnabeu.

Satu hal yang saya nanti saat mendengar kabar kepindahan Mou. Tak lain dan tak bukan adalah tentang pertemuannya dengan Joseph Guardiola sang nahkoda La Blaugrana. Saat itu Guardiola telah membuktikan sebagai manajer dengan segudang prestasi beberapa tahun sebelumnya. Madrid dan Barcelona yang notabene adalah rival abadi dalam segala lini mulai politik hingga teritorial, mulai ketetapan daerah keistimewaan hingga referendum. Maka El Classisco adalah medan pertempuran sebenarnya antar keduanya. Dalam pertandingan tersebut segala alegori masyarakat Spanyol terbelah.

Sayangnya dalam 2 kali gelarannya Madrid tak sekalipun memenanginya. Hancur 2-6 di Santiago Barnabeu lalu dipencundangi 0-1 di Nou Camp.

Di ajang yang berbeda pada gelaran Piala Dunia 2010 tepatnya di Afrika Selatan. Xabi dan kawan-kawan sukses mencatatkan tinta emas bagi negaranya. Ia dan rekan-rekannya berhasil membawa pulang piala paling bergengsi sejagad raya. Dan merupakan kali pertama bagi otoritas sepakbola negara tersebut sejak berdiri 1886 silam.

Spanyol sendiri memang diunggulkan karena tampil impresif dengan menjadi juara pada ajang  EURO, dua tahun sebelumnya. Meski sempat kalah dari Swiss 0-1 di babak penyisihan. Setelah itu mereka bak kesetanan dengan terus menerus memenangkan pertandingan demi pertandingan.

Melalui pola bermain tiki-taka yang telah dikembangkan oleh Barcelona, dan menjadi skema dasar pola bermain Spanyol yang begitu menakutkan kala itu. Pelatih timnas Spanyol, Vicente Del Bosque, benar-benar memanfaatkan kekayaan potensi lini tengah yang  ia miliki. Di gelandang serang ada nama Andres Iniesta, Xavi Hernandez, dan Pedro yang menyisir dari sisi kiri pertahanan lawan, dan hanya meninggalakan seorang David Villa sebagai ujung tombak. Pada lapis kedua di sisi tengah La Furia Roja ada nama Sergio Busquet dan tentu saja Xabi Alonso.

Laga final sendiri dihelat di kota Johannesburg, tepatnya di Soccer City Stadium puluhan ribu orang berjejal guna menonton laga pamungkas yang digelar empat tahunan tersebut. Pertandingan ini sendiri dihadiri 84.490 penonton, dengan perputaran uang yang berkisar sekurang-kurang mencapai angka 14 triliun rupiah.

Jutaan pasang mata menyaksikan pertandingan tersebut. Pasalnya kedua kesebelasan baik Belanda maupun Spanyol sama-sama belum pernah mencicipi gelar Piala Dunia. Prestasi tertinggi Belanda adalah menjadi finalis di tahun 1974 dan 1978. Sedangkan untuk Spanyol sendiri ini adalah Final Piala Dunia pertamanya.

Di awal laga Spanyol sempat beberapa kali terancam oleh serangan-serangan yang dilancarkan Belanda melalui kecepatan Arjen Robben. Permainan impresif yang di instruksikan Bert van Warwijk merusak konsentrasi para pemain Spanyol.

Dan tepatnya pada menit ke 28 salah satu pelanggaran paling degil dalam sejarah sepakbola modern pun terjadi dihadapan jutaan pasang mata.

Saat hendak menerima umpan lambung dari Xavi, Xabi mencoba melompat dan sukses mengarahkan bola tersebut dengan kepalanya. Lalu satu kaki melayang tepat di dadanya, itu terlihat seperti gerakan kungfu. Yang jika ditilik ulang itu jelas dilakukannya dengan sengaja.

2017-04-06 23.00.14
tendangan kungfu de jong kepada xabi

Siapakah pelakunya? Tak lain dan tak bukan ya, Nigel De Jong, salah satu pesepakbola dengan rekam jejak tak jarang melakukan tindakan-tindakan brutal.

Xabi pun terguling setelah mendapat tendangan kungfu tersebut. Nampak ia mengerang menutupi dadanya dengan salah satu tangannya dan dengan tubuh tertelungkup. Seiisi stadion sesaat terhenyak. Setelah mendapatkan pertolongan pertama untuk sesaat kondisinya membaik, dan ia pun hanya dibopong ke pinggir lapangan.

Setelah beberapa saat, nampak Xabi berdiri di pinggir lapangan. Dengan kondisi dan kejadian yang baru saja ia alami. Nampak ia dingin-dingin saja sebelum masuk lapangan untuk melanjutkan pertandingan. Seperti tak ada dendam tak ada apapun, ia menganggap itu sebagai bagian dari provokasi lawan. Dan Xabi enggan terpancing dan memilih untuk melupakannya. 

Ia tetap berlari sebagaimana sebelum kejadian tersebut. Seperti tidak pernah terjadi apapun. Xabi tetap menjadi semesta lini tengah Spanyol yang ia komandoi. Sebelum Fabregas menggantikannya kelak pada menit 81.

Kemarahan kubu Spanyol atas keputusan Howard Webb selaku wasit yang hanya memberikan kartu kuning kepada De Jong pun tak terhindarkan. Dampak dari ini pun berbuntut panjang dan kejadian ini pun berlarut hingga lorong ganti seusai babak pertama.

“Saya masih merasa putusan saya di lapangan tepat. Jadi, ketika saya kembali ke ruang ganti dan setelah assisten wasit menjawab telepon, wajahnya mendadak pucat. Saya kemudian bertanya, ‘Ada masalah?”. Tanya Webb.

“De Jong seharusnya dikartu merah. Orang dari markas pusat wasit mengatakan dia semestinya diusir.”. Ujar assisten wasit setelah menerima jawaban dari pusat wasit seperti dikutip Soccerway.

“Howard, itu bukan kartu merah, itu penyerangan yang mustinya dipenjara.”, Sambungnnya.

Di babak kedua pelatih Vicente del Bosque melakukan perubahan dengan memasukkan Jesus Navas menggantikan Pedro Rodriguez. Strategi ini terbukti tepat karena kemudian permainan Spanyol menjadi lebih variatif.

Beberapa kali Navas melakukan pergerakan di sisi kanan yang membuat barisan pertahanan Belanda kocar-kacir. Sebuah umpan yang dilepaskannya di sekitar menit ke-70 seharusnya bisa menghasilkan gol andai saja sontekan David Villa tak diblok oleh bek Belanda.

Memasuki menit ke-109 Belanda harus kehilangan seorang pemain setelah John Heitinga mendapat kartu kuning kedua lantaran menarik jatuh Iniesta. Kalah jumlah pemain membuat Belanda makin sulit menahan gempuran Spanyol hingga akhirnya gawang mereka dibobol Iniesta

Andres Iniesta menjadi pahlawan dengan mencetak satu-satunya gol kemenangan Spanyol dalam pertandingan itu  menit ke-116.

Spanyol menjadi tim kedelapan yang memenangi Piala Dunia setelah Brasil, Italia, Jerman, Argentina, Uruguay, Inggris dan Prancis. Gelar yang teramat istimewa mengingat sebelumnya mereka menjuarai EURO 2008 di Austria dan Swiss dengan menjungkalkan Jerman.

Dan lagi-lagi Xabi menjadi bagian dari sejarah penting bagi tim yang ia bela. Ia menunjukan totalitas tak hanya tercipta saat kita berada diatas angin setelah sebelumnya memenangi gelar. Namun ia tetap merasa bahwa setiap detik dalam hidupnya adalah perjuangan tanpa pernah putus. Hal tersebutlah yang membuat semua orang segan kepadanya. Baik rekan setim bahkan rival abadi sekalipun. Dan itu tidak merubah sikapnya sedikit pun. Ia tetap rendah hati dengan apapun yang sudah ia capai.

Selain itu, ia nampak seorang yang begitu menikmati proses. Dimana pun ia berada ia selalu mencoba beradaptasi dengan lingkungan barunya, bukan sebaliknya. Menjalani proses dengan sungguh-sungguh tanpa pernah memperdulikan lagi sudah dalam kondisi seperti apa, bahkan remuk redam sekalipun. Xabi menggambarkan bahwa apapun yang tak akan membuatmu mati akan membuatmu lebih kuat. Bahwa seorang laki-laki dapat dikalahkan, namun tak dapat dihancurkan.

 

Terima Kasih dan Panjang Umur, Xabier Olano Alonso.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s